Valentine’s Day Bukan Ajaran Islam, Mengapa Ada Umat yang Merayakan?

Diambil dari Fatwa-Fatwa Terkini jilid 2. Muroja’ah: Ust. Subhan Khadafi. Akhir-akhir ini telah merebak perayaan valentine’s day terutama di kalangan para pelajar putri, padahal ini merupakan hari raya kaum Nasrani. Mereka mengenakan pakaian berwarna merah & saling bertukar bunga berwarna merah. Kami mohon perkenanan syaikh utk menerangkan hukun perayaan semacam ini, & apa saran syaikh utk kaum muslimin sehubungan dgn masalah-masalah seperti ini. Semoga Allah menjaga & memelihara syaikh.

Jawaban:

Tidak boleh merayakan valentine’s day karena sebab-sebab berikut:

Pertama: bahwa itu adalah hari raya bid’ah tak ada dasarnya dlm syari’at.

Kedua: bahwa itu akan menimbulkan kecengengan & kecemburuan.

Ketiga: Bahwa itu akan menyebabkan sibuknya hati dgn perkara-perkara bodoh yang bertolak belakang dgn tuntunan para salaf radhiyallohu’anhum.

Karena itu pada hari tersebut tak boleh ada simbol-simbol perayaan, baik berupa makanan, minuman, pakaian, saling memberi hadiah ataupun yang lainnya.

Hendaknya setiap muslim merasa mulia dgn agamnya & tak merendahkan diri dgn menuruti setiap ajakan. Semoga Allah Subhanahu wata’alla melindungi kaum muslimin dari setiap fitnah, baik yang nyata maupun yang tersembunyi & semoga Allah senantiasa membimbing kita dgn bimbingan & petunjuk-Nya.

Fatwa Syaikh Ibnu Ustaimin, tanggal 5/11/1420 H yang beliau tanda tangani

Pertanyaan:

Setiap tahunnya pada tanggal 14 februari sebagian orang merayakan valentine’s Day. Mereka saling bertukar hadiah berupa bunga merah, mengenakan pakaian berwarna merah, saling mengucapkan selamat & sebagian toko atau produsen permen membuat atau menyediakan permen-permen yang berwarna merah lengkap dgn gambar hati, bahkan sebagian toko mengiklankan produk-produknya yang dibuat khusus utk hari tersebut. Bagaimana pendapat syaikh tentang:

Pertama: Merayakan hari tersebut?

Kedua: Membeli produk-produk khusus tersebut pada hari itu?

Ketiga: Transaksi jual beli ditoko (yang tak ikut merayakan) yang menjual barang yang bisa dihadiahkan pada hari tersebut kepada orang yang hendak merayakannya?

Semoga Allah membalas syaikh dgn kebaikan.

Jawaban:

Berdasarkan dalil-dalil dari Al Kitab & As Sunah, para pendahulu umat sepakat menyatakan bahwa hari raya dlm islam hanya ada dua; Idul Fitri & Idul Adha selain itu semua hari raya yang berkaitan dgn seseorang, kelompok, peristiwa atau lainnya adalah bid’ah, kaum muslimin tak boleh melakukannya, mengakuinya, menampakkan kegembiraan karenanya & membantu terselenggaranya karena perbuatan ini merupakan perbuatan yang melanggar batas-batas Allah, sehingga dgn begitu pelakunya berarti telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri. Jika hari raya itu merupakan simbol orang-orang kafir, maka ini merupakan dosa lainnya, karena dgn begitu berarti telah ber-tasyabbuh dgn mereka & loyal terhadap mereka di dlm kitab-Nya yang mulia & telah diriwayatkan secara pasti dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bahwa beliau bersabda,

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Daud)

Valentine’s Day termasuk jenis yang disebutkan tadi, karena merupakan hari raya Nasrani, maka seorang muslim yang beriman kepada Allah & Hari Akhir tak boleh melakukannya, mengakuinya atau ikut mengucapkan selamat bahkan seharusnya meninggalkannya & menjauhinya sebagai sikap taat terhadap Allah & Rosul-Nya serta utk membantu penyelenggaraan hari raya tersebut & hari raya lainnya yang diharamkan baik itu berupa iklan & sebagainya, karena semua ini termasuk tolong menolong dlm perbuatan dosa & permusuhan serta maksiat terhadap Allah & Rosul-Nya sementara Allah Subhanahu wata’alla telah berfirman:

“Dan tolong menolonglah kamu dlm (mengerjakan) kebajikan & taqwa & jangan tolong menolong dlm berbuat dosa & pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.” (QS. Al Ma’idah: 2)

Dari itu hendaknya setiap muslim berpegangteguh dgn Al kitab & As sunah dlm semua kondisi lebih-lebih pada saat-saat terjadinya fitnah & banyaknya kerusakan. Hendaknya pula ia benar-benar waspada agar tak terjerumus ke dlm kesesatan orang-orang yang dimurkai, orang-orang yang sesat & orang-orang yang fasik yang tak mengajarkan kehormatan dari Allah & tak menghormati Islam.

Dan hendaknya seorang muslim kembali kepada Allah dgn memohon petunjuk-Nya & keteguhan didalam petunjuk-Nya. Sesungguhnya tak ada yang dapat memberi petunjuk selain Allah & tak ada yang dapat meneguhkan dlm petunjuk-Nya selain Allah Subhanahu Wata’alla. Hanya Allah-lah yang kuasa memberi petunjuk.

Salawat & salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga & para sahabatnya.

Fatwa Al-Lajnah Ad-Da imah lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta (21203) tanggal 22/11/1420 H

sumber: www.muslimah.or.id