Wanita: Antara Pembela dan Pencela (4) Qasim Amin

Sejarah Hitam Pelecehan Terhadap Wanita Dengan Nama “Emansipasi Wanita”
Sejarah pelecehan terhadap wanita muslim berawal dari negeri Kan’an, Mesir, ketika penguasa Mesir pada waktu itu Muhammad Ali Basya mengadakan program pengiriman mahasiswa-mahasiswa muslim ke Prancis. Di antara mereka yang dikirim adalah Rif’at Rafi’ Ath-Thahthawi (w. 1290 M). Dialah yang pertama kali menyebarkan bibit propaganda terhadap emansipasi wanita ini sepulangnya dari Prancis. Lalu mulailah gerakan setan ini diteruskan oleh para pewarisnya di segala penjuru negeri Islam.
Di Mesir sendiri -negeri pertama kali yang mempropagandakan gerakan emansipasi wanita ini- banyak orang yang terpengaruh dgn pemikiran Rif’at ini yang kebanyakan mereka adalah para intelektual muslim hasil didikan Barat & orang Nashrani, diantaranya adalah:

Markus Fahmi (w. 1374 M) dlm bukunya Al-Mar’atu fi Asy-Syarqi (Wanita Timur).
Ahmad Luthfi As-Sayyid (w. 1382 M), orang pertama kali yang memasukkan wanita-wanita Mesir ikut serta belajar di perguruan-perguruan tinggi campur baur dgn kaum lelaki dgn menanggalkan busana muslimahnya. Dan ini sejarah pertama yang tercatat di Mesir & mendapat dukungan dari Thaha Husain (w. 1393 M)
Qasim Amin (w. 1326 M) orang kedua setelah Rif’at yang menjadi propagandis terkenal dlm gerakan emansipasi wanita. Dia menulis buku yang terkenal Tahriirul Mar’at (Emansipasi Wanita). Yang banyak mendapat kecaman dari para ulama baik di Mesir, Syam & Iraq & dihukumi murtad oleh mereka. Akan tetapi tak lama kemudian dia menulis buku lagi yang berjudul Al-Mar’atu Al-Jadiidatu (Wanita Modern), maksudnya adalah: merubah wanita muslimah menjadi wanita Eropa.
Ratu Naziliy Abdurrahman Shabriy, seorang muslimah yang telah murtad dgn pindah ke agama Kristen. Dia merupakan salah satu pendukung tulen gerakan “Emansipasi Wanita” ini (Lihat: Ratu Naziliy: 8/226-227)
Sa’d Zaghlul (w. 1346 M) & saudara sepupunya Ahmad Fathi Zaghlul (w. 1332 M) sebagai pelaksana pemikiran yang dibawa oleh Qasim Amin ini.
Huda Sya’rawi (w. 1367 M) pemimpin gerakan wanita di Kairo yang mendakwahkan Emansipasi Wanita pada tahun 1337 M. Dan kongres mereka yang pertama kali dilangsungkan di gereja Al-Marqashiyah di Mesir tahun 1338 M. Huda Asy-Sya’rawi adalah wanita muslimah Mesir pertama kali yang menanggalkan hijab.

Dan masih ada lagi nama-nama lain dari para pengikut hawa nafsu dari Mesir seperti: Ihsan Abdul Quddus, Mushthafa Amin, Najib Mahfudz, Thaha Husain dari kalangan umat Islam, sedangkan dari kalangan Kristen muncul nama seperti: Syibli Syumayyil, Farah Anton dll. Mereka bahu membahu mendakwahkan gerakan iblis ini utk mengelabui wanita-wanita muslimah dgn menggunakan surat kabar, sarana pertama & paling utama serta paling utk efektif utk menyebarkan gerakan ini. Maka muncullah surat kabar dgn nama “Majalah As-Sufur (Majalah Pornografi)” pada tahun 1318 M, yang isinya tak lain merusak wanita muslimah melalui hal-hal berikut:

Menampilkan gambar-gambar wanita seksi.
Campur baur antara laki perempuan dlm diskusi & rapat-rapat.
Pemikiran sesat tentang “Wanita adalah partner laki-laki” maksudnya bahwa wanita itu sama dgn lelaki dlm semua hal.
Menjelek-jelekkan ajaran islam bahwa lelaki adalah pemimpin bagi wanita.
Menampilkan mode & busana ala Barat, model kolam renang bagi wanita.
Menampilkan gambar tempat-tempat hiburan, kafe, bar dll.
Menampilkan kisah-kisah mesum & adegan pribadi yang merusak kehormatan wanita.
Menyanjung bintang film, penyanyi, artis dll.

Kemudian gerakan ini secara cepat merambah ke negara-negara islam lainnya sehingga dikeluarkanlah undang-undang tentang pelarangan hijab di berbagai Negara, antara lain:
Di Turki, pada tahun 1456 M Mushthafa Kemal At-Tatruk mengeluarkan undang-undang tentang pelarangan hijab. Kemudian pada tahun 1348 M diberlakukan undang-undang baru buatan Swiss yang bernama UU Konvensional New Castle yang melarang poligami bagi lelaki muslim. Sejak saat itulah wanita muslimah Turki sudah tak ada bedanya lagi kondisinya dgn wanita Swiss, mereka tak malu-malu lagi memakai busana Barat yang menampakkan aurat mereka, Wal’iyadzu Billah.
Di Iran, pada tahun 1344 M Ridha Bahlawi penguasa dari kalangan Rafidhah mengeluarkan undang-undang tentang pelarangan hijab bagi wanita Iran.
Di Afghanistan, Muhammad Aman juga mengeluarkan undang-undang yang sama. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ahmad Zogho di Albania.
Dan di Tunis pada tahun 1421 M Abu Ruqaibah mengeluarkan undang-undang tentang larangan hijab & poligami. Dan barang siapa yang melanggar dikenai sanksi hukuman penjara 1 tahun atau membayar denda sesuai dgn ketetapan. Di samping itu dia juga mengeluarkan beberapa undang-undang lain yang isinya menentang syariat Islam seperti: Undang-undang yang memberikan kebebasan penuh kepada wanita jika telah berusia 20 tahun utk memilih pasangan hidupnya tanpa persetujuan dari kedua orang tuanya, & juga undang-undang yang isinya hukuman bagi orang yang menikahi dua orang wanita secara halal & membebaskan bagi mereka yang menikahi 10 orang wanita secara haram. Majalah Al-’Arabiy pernah memuat sebuah temuan adanya gambar pamflet yang terpampang di jalanan Tunisia, di mana di setiap lapangan ada dua buah papan, yang satu menggambarkan sebuah keluarga yang memakai busana islami dgn tanda (x) & yang satu menggambarkan sebuah keluarga yang memakai pakaian ala barat dgn tanda (v) di bawahnya tertulis sebuah komentar “Jadilah kalian seperti mereka”.
Selain Abu Ruqaibah yang mendakwahkan gerakan setan ini di Tunisia ada juga Ath-Thahir Al-Haddad (1317-1353 M) menulis kitab “Imroatuna fi Asy-Syari’ah wal Mujtama’ (Wanita Kita dlm pandangan Syari’at & Masyarakat)” yang selama dekade tahun 1338-1348 M mendakwahkan kepada gerakan “Emansipasi Wanita” sehingga dua orang mufti dari madzhab Maliki menghukuminya murtad keluar dari agama. Selanjutnya dia diasingkan sebab tulisannya itu sampai akhir hidupnya tahun 1353 M. Dia meninggal dlm keadaan yang sangat mengenaskan & tak ada seorangpun yang mengantarkan jenazahnya selain keluarga & beberapa temannya saja. Dia termasuk orang yang gemar musik, suka pergi ke kafe & bar serta menganut paham sosialis.
Di Irak gerakan “Emansipasi Wanita” diusung oleh Az-Zahawiy & Ar-Rashafiy sebagaimana yang disebutkan dlm kitab “Peristiwa-peristiwa politik dari sejarah Irak yang baru” halaman 91-143.
Di Aljazair kondisinya lebih parah lagi sebagaimana dlm kitab At-Targhib fi Al-Fikri wa As-Siyasah wa Al-Iqtishad (Westernisasi dlm bidang Pemikiran, Politik & Ekonomi) halaman 133-139 disebutkan sebuah kisah yang memilukan, yaitu: pada tanggal 13 Mei 1958 M pemerintah memerintahkan seorang khatib Jum’at utk menyampaikan materi tentang larangan hijab dlm khutbahnya. Maka khatib inipun melaksanakannya, & setelah selesai shalat, salah seorang wanita Aljazair berdiri memegang mikrofon mengajak teman-temannya utk melepas hijab, lalu dia melepas hijabnya & diikuti oleh wanita yang lainnya. Dan kejadian serupa juga terjadi di beberapa kota di Aljazair bahkan di ibu kota Aljazair sendiri. Peristiwa inipun didukung oleh pers dgn meliputnya secara besar-besaran, Nas’alulloha Al-’Afwa Wal ‘Afiyah.
Di Maroko & Syam dgn keempat Negara yang masuk di dalamnya: Libanon, Suria, Yordania & Palestina gerakan “Emansipasi Wanita” juga berkembang pesat. Buku pertama kali yang muncul di Syam berkenaan dgn masalah ini ditulis tahun 1347 M -10 tahun setelah meninggalnya Qasim Amin- oleh Nadzirah Zainuddin dgn judul As-Sufur & Al-Hijab yang diberi kata pengantar oleh ‘Ali ‘Abdurrazaq penulis buku “Islam wa Ushulul Hukm” buku rujukan utama bagi kaum sekuler yang di Mesir sendiri mendapat tantangan keras dari para ulama.
Di India & Pakistan, gerakan “Emansipasi Wanita” dgn kedua sayapnya “Kebebasan & Persamaan (Gender)” mulai muncul pada tahun 1370 M dgn diterjemahkannya kitab Qasim Amin “Tahrirul Mar’at” ke dlm bahasa Urdu. Lalu diikuti dgn berbagai tulisan di media cetak. Ini semua tercantum secara lengkap dlm buku “Pengaruh Pemikiran Barat Terhadap Kerusakan Masyarakat Muslim di Semenanjung India” karangan Khadim Husain hal. 182-195.
Ini sejarah singkat tentang gerakan iblis dgn nama “Emansipasi Wanita” yang telah banyak memakan korbannya dari kalangan wanita muslimah di berbagai belahan dunia Islam.
Kisah yang Memilukan
a. Kisah Pertama: ketika Sa’ad Zaghlul pulang dari Inggris -dengan membawa pemikiran sesatnya utk merusak Islam dari dalam- utk menyambut kedatangannya di bandara dibuatlah dua panggung, satu khusus utk laki-laki & yang lain utk wanita dgn memakai hijab. Begitu Sa’ad Zaghlul turun dari pesawat, dia langsung menuju panggung khusus wanita & disambut langsung oleh Huda Sya’rawi yang pada waktu itu memakai hijab agar dilepas oleh Sa’ad. Lalu Sa’ad pun melepaskan hijab dari Huda yang diikuti serentak oleh wanita-wanita yang hadir pada saat itu dgn bersorak-sorai.
b. Kisah Kedua: Shafiyah bintu Mushthafa Fahmi, isteri Sa’ad Zaghlul yang setelah menikah dengannya dia mengganti namanya menjadi Shafiyah Hanim Sa’ad Zaghlul, dgn menisbahkan dirinya sebagai istri ke nama suaminya sebagaimana kebiasaan wanita-wanita barat setelah mereka menikah. Pada sebuah demonstrasi wanita yang berlangsung di depan istana Nil, dia melepas hijab yang diikuti secara serentak oleh para wanita yang lain. Kemudian mereka menginjak-injaknya & membakarnya bersama-sama. Oleh karena itu lapangan tempat terjadinya peristiwa tersebut dgn nama “Maidan At-Tahrir “ (Lapangan Kebebasan).
Apa Isi Dan Akibat Buruk Dari Gerakan Iblis “Emansipasi Wanita” Ini ?
Gerakan “Emansipasi Wanita (Tahrirul Mar’ah)” ini terdiri dari dua pokok masalah:
1. Kebebasan Wanita (Hurriyatul Mar’ah)

Mengajak wanita utk melepas hijab, lambang kehormatan mereka & menghilangkan rasa malu dari diri mereka. Sehingga banyak negara islam yang mengeluarkan undang-undang larangan hijab bagi kaum muslimah, memberikan sanksi kepada mereka yang memakai hijab dgn hukuman satu tahun penjara atau denda atau mengintimidasi mereka yang berhijab, seperti yang terjadi di Turki, Tunisia, Iran, Afghanistan, Albania, Somalia & Aljazair.
Menawarkan mode & berpakaian ala barat dgn bantuan mass media baik cetak maupun elektronik. Sehingga banyak kita jumpai wanita-wanita muslimah yang memiliki kesibukan & hobby baru yaitu membaca & mengikuti perkembangan mode & busana ala barat.

2. Persamaan antara Wanita & Pria (Gender/Al-Musaawatu Bainal Mar’ati Wa Ar-Rajul)

Mengajak wanita utk keluar rumah utk bersama-sama kaum lelaki bekerja di segala bidang kehidupan.
Gerakan ini membawa beberapa pemikiran yang kesemuanya merusak wanita muslimah & mencabik-cabik kehormatannya. Banyak sekali dampak negatif dari gerakan ini, diantaranya:

Merebaknya gambar-gambar adegan pribadi & tayangan-tayangan yang tak senonoh & melanggar norma-norma masyarakat & agama.
Menyebarnya perzinaan & praktek-praktek prostitusi di masyarakat & tak jarang diantaranya yang dilegalkan. Dan lebih parahnya lagi munculnya kaum homo & lesbian yang dahulu sama sekali tak dikenal oleh masyarakat islam.
Tuntutan kuat utk membatalkan hukum islam dlm masalah hudud terutama yang berkenaan dgn masalah zina.
Munculnya praktek-praktek medis yang melanggar syar’i sebagai dampak dari perzinaan seperti: aborsi, munculnya alat-alat baru utk mencegah kehamilan, anjuran utk KB, adanya bayi tabung, sewa rahim perempuan lain dll.
Munculnya undang-undang yang bertentangan dgn syariat Islam seperti: larangan poligami, perempuan juga memiliki hak utk menceraikan suaminya, perempuan yang sudah dewasa usia 20 tahun bebas memilih pasangan hidupnya sendiri meskipun tanpa izin orang tua atau walinya, perempuan memiliki hak waris yang sama dgn laki-laki dll.
Timbulnya berbagai macam penyakit masyarakat seperti: banyaknya anak-anak terlantar akibat perzinaan, menyebarnya kenakalan remaja akibat salah urus karena orang tua mereka sibuk dgn karier & pekerjaan, munculnya penyakit-penyakit kelamin yang sampai sekarang susah dicarikan obatnya, munculnya perselingkuhan di kalangan keluarga, naiknya angka perceraian, meningkatnya jumlah perawan-perawan tua karena perzinaan dll.
Hilangnya rasa malu dari diri wanita muslimah & tumbuhnya rasa kurang PD dgn busana islami yang dianjurkan agama Islam.

Beberapa Nasihat Penting
1. Kepada pemerintah untuk:

Membuat undang-undang tentang: larangan membuka aurat & melepas hijab bagi wanita.
Membuat undang-undang tentang pemisahan antara laki-laki & perempuan dlm semua bidang kehidupan.
Membuat undang-undang pers tentang larangan menulis hal-hal yang merusak kehormatan wanita.
Menghukum atas segala pelanggaran undang-undang yang ditetapkan & menyeret pelakunya ke pengadilan.

2. Kepada para ulama, da’i & thullabul ‘ilmi utk tak bosan-bosan

Memberikan nasihat & peringatan kepada para wanita utk menjaga kehormatan mereka.
Menegakkan amar makruf nahi mungkar di kalangan masyarakat.
Memberikan semangat utk selalu beriltizam dgn ajaran-ajaran islam & giat utk menuntut ilmu syar’i.

3. Kepada para orang tua & suami hendaknya mereka bertakwa kepada Allah dlm amanah yang diberikan Allah kepada mereka berupa anak-anak perempuan atau istri-istri mereka. Hendaknya mereka mendidik para wanita yang berada di bawah tanggung jawabnya agar menjaga kehormatan mereka & membentengi mereka dari segala hal yang bisa merusak mereka seperti; teman yang jelek, media pers dll. Dan hendaknya mereka paham bahwa kerusakan yang melanda para wanita sebab yang paling utama adalah keteledoran kaum laki-laki dlm mendidik & membimbing mereka.
4. Kepada para wanita muslimah bertakwalah kalian kepada Allah, jagalah kehormatan kalian. Janganlah kalian rela menjadi barang mainan oleh tangan-tangan orang yang ingin menghancurkan agama ini & umatnya lewat kalian. Pakailah pakaian yang syar’, hindari segala hal yang akan merusak diri kalian. Janganlah kalian menjadi kaki tangan setan dlm menggoda umat manusia ini.
5. Kepada para pembawa bendera “Emansipasi Wanita” baik para pemikir, penulis atau yang lainnya utk segera bertaubat dgn taubat nashuha. Dan bertakwalah kalian kepada Allah jangan sampai kalian menjadi pintu-pintu bagi manusia utk melakukan perbuatan keji. Dan ingatlah kalian akan siksaan & ancaman Allah kelak di akhirat.
6. Kepada setiap kaum muslimin utk menjaga diri mereka masing-masing dari perbuatan keji & mungkar & menjaga lisan mereka jangan sampai menyebarkan perbuatan yang keji & rida dgn hal itu. Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآَخِرَةِ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia & di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tak mengetahui.” (QS. An-Nuur: 19)
Kalimat Terakhir
Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dlm kitabnya “Al-Hikam Al-Jadirah bil Idza’ah” hal. 43 menyebutkan sebuah riwayat: “Diriwayatkan dari al-imam Ahmad bahwasanya beliau pernah ditanya: “Bahwasanya Abdul Wahhab Al-Warraq mengingkari masalah ini & itu.” Beliau menjawab: “Kita akan tetap dlm kebaikan selama ada di antara kita yang mengingkari kemungkaran yang ada.”
Senada dgn apa yang disampaikan beliau adalah apa yang diriwayatkan dari Umar radhiyallahu ‘anhu: Bahwasanya ada orang yang berkata kepada beliau: “Bertakwalah anda wahai amirul mukminin!” Lalu beliau menjawab: “Tidak ada kebaikan pada kalian jika kalian tak mau mengatakan hal ini kepada kami. Dan tak ada kebaikan pada kami jika kami tak mau menerima ucapan itu dari kalian.”
والله أعلم بالصواب
وصلى الله على محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
***

Penulis: Abu Umair Mahful Safaruddin, Lc.
Ringkasan dari kitab “Hirasatul Fadlilah (Menjaga Kehormatan Wanita)” karangan Syekh Bakr Abu Zaid -rahimahullah- dgn sedikit perubahan & tambahan)
Artikel www.muslimah.or.id
sumber: www.muslimah.or.id