Yakin dan Berpegang Teguh Terhadap Tauhid

Inilah Syarat Kalimat Tauhidmu
Saudariku…
Menjadi insan yang bertauhid adalah dambaan bagi setiap hamba yang beriman. Karena senantiasa berada di atas kalimat tauhid adalah puncak kenikmatan & kebahagiaan. Bagaimana tidak? Karena tauhid merupakan kunci penyelamat kehidupan seorang hamba di dunia menuju alam akhirat. Di dunia dia bahagia karena terlepas dari penghambaan diri kepada selain Allah, & di akhirat dia bahagia karena berhak utk mendapatkan surga. Sebagaimana hadits dari ‘Ubadah Ibnu Shamit radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tak ada sekutu bagi-Nya, & bahwasannya Muhammad itu adalah hamba & utusan-Nya, & bahwasannya ‘Isa adalah hamba & utusan-Nya & kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam & ruh dari-Nya, & (dia juga bersaksi) bahwa surga itu benar adanya & neraka itu benar adanya, maka Allah akan memasukkan dirinya ke dlm surga berapapun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan menjelaskan bahwa “dimasukkan surga berapapun amal yang telah diperbuatnya” memiliki dua makna:
1Allah memasukkannya ke dlm surga, meski dia seorang yang lalai & memiliki dosa (selain syirik), karena sesungguhnya seorang yang bertauhid harus dimasukkan ke dlm surga.
2Allah memasukkannya ke dlm surga & kedudukannya tergantung amal yang telah diperbuatnya.
Namun sudah tahukah kita bahwa kalimat tauhid (لا اله الا الله ) yang seringkali kita ucapkan dlm shalat & dzikir keseharian kita ternyata memiliki syarat yang harus kita penuhi. Apa sajakah syarat itu? Marilah sejenak kita lanjutkan risalah ini.
Apakah maksud kata: Syarat
Syarat (اَلشَرْطُ ) secara bahasa artinya tanda atau alamat.
Secara istilah, makna syarat adalah sesuatu yang apabila tak ada menjadikan tak adanya hukum, namun adanya tak mengharuskan pasti adanya hukum.
Contoh:
Hadits dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لا صلاة لمن لا وضوء له
“Tidak ada shalat bagi orang yang tak punya wudlu.”
Dalil di atas menegaskan bahwa seseorang tak berwudlu (bersuci), maka shalatnya tak sah. Karena orang tersebut tak memenuhi salah satu syarat sahnya shalat yaitu berwudlu (bersuci). Hal ini menjelaskan pengertian pertama dari syarat, “sesuatu yang apabila tak ada menjadikan tak adanya hukum”. Adapun penjelasan pengertian kedua, “adanya sesuatu tak mengharuskan pasti adanya hukum”, yaitu jika seseorang berwudlu, maka wudlunya tersebut tidaklah memastikan/mengharuskan dirinya hendak mengerjakan shalat. Boleh jadi dia berwudlu karena ada hajat lainnya, misalnya amalan sunnah yang dilakukan sebelum tidur, hendak mandi wajib, & lain sebagainya.
Darimana asal usul syarat لا اله الا الله?
Sebelum kita membahas syarat-syarat apa saja yang harus kita dipenuhi, mungkin kita bertanya-tanya, darimana asal-usul adanya syarat kalimat لا اله الا الله? Adakah dalil yang secara tegas menjelaskan hal tersebut?
Saudariku,… memang tak ada dalil ‘saklek’ yang menjelaskan tentang syarat لا اله الا الله, namun para ulama telah mengumpulkan dalil-dalil dari Al-Qur’an & Sunnah yang menjelaskan tentang adanya syarat-syarat tersebut. Sebagaimana mereka juga mengumpulkan syarat-syarat & rukun-rukun dari ibadah-ibadah yang lain seperti shalat, dll. Dengan demikian, hal ini lebih memudahkan kaum muslimin dlm memahami & mengamalkannya.
Mengapa kita harus melaksanakan syarat-syarat itu?
Sebagaimana penjelasan sebelumnya, kalimat لا اله الا الله yang seringkali kita ucapkan dlm shalat & dzikir keseharian memiliki syarat yang harus dipenuhi. Jika salah satu di antara syarat-syarat tersebut tak kita penuhi, maka akan menjadikan kalimat tersebut tak sah atau tak diterima.
Saudariku…
Banyak kaum muslimin yang tak mengetahui syarat-syarat ini. Hingga akhirnya merekapun dgn begitu ringannya mengucapkan kalimat لا اله الا الله , tanpa mengetahui konsekuensi dari kalimat tersebut. Mereka mengucapkannya, namun mereka tak meyakini di dlm hati serta tak mengamalkan syarat-syarat tersebut karena ketidaktahuan mereka. Sehingga hal ini adalah sesuatu yang sia-sia.
Adapun orang-orang kafir Quraisy di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka begitu memahami makna & hakikat kalimat tersebut dlm bahasa Arab, sehingga mereka tidaklah mau menerima kalimat ini meski hanya mengucapkan saja. Karena mengucapkan kalimat tersebut memiliki resiko & konsekwensi yang sangat besar yakni mereka harus meninggalkan segala sesembahan lainnya, yang mereka sembah selain Allah.
أَجَعَلَ الْآَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shad: 5).
Orang-orang kafir tersebut mengetahui makna kalimat tauhid secara sempurna namun mereka tak mau memenuhi seruannya, sedangkan kaum muslimin zaman sekarang berbondong-bondong mengucapkan kalimat tauhid, namun banyak dari mereka masih terjerumus dlm kemusyrikan karena ketidaktahuan mereka dgn makna kalimat tersebut. Kita berlindung pada Allah dari hal ini.
Inilah syarat-syarat kalimat لا اله الا الله
Saudariku..
Inilah syarat kalimat tauhid yang harus kita pahami. Perhatikanlah, agar kita diberikan kemudahan oleh Allah utk melaksanakan 7 syarat berikut ini:
Pertama, Ilmu, yaitu memahami makna kalimat tersebut, baik dari sisi penafian (peniadaan) maupun dari sisi penetapan.
Dengan mengilmui, kita telah berusaha menghilangkan kebodohan kita terhadap makna kalimat ini. Adapun makna dari kalimat لا اله الا اللهadalah لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ اِلاَّ اللهُ :
Tidak ada sesembahan yang haq (diibadahi dgn benar) selain Allah.
Dua hal yang harus kita ketahui dari kalimat ini adalah:

نَفْيُُ (Penafian). Sisi penafian ditunjukkan oleh kalimat لَا اِلَهَ: Artinya, kalimat ini meniadakan semua bentuk sesembahan.
اِثْبَاتُ ُ (Penetapan). Sisi penetapan ditunjukkan pada kalimat اِلَّا اللهُ : Artinya kalimat ini menetapkan bahwa satu-satunya Dzat yang berhak utk diibadahi hanyalah Allah.

Perlu diingat, bahwa kedua hal ini harus berjalan bersamaan. Karena tidaklah dinamakan bertauhid ketika hanya menafikan adanya tuhan, atau sebaliknya hanya menetapkan bahwa Allah adalah sesembahan, tanpa diiringi pengingkaran terhadap sesembahan selain Allah.
Dalil wajibnya memahami makna kalimat ini adalah firman Allah ta’ala :
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tak ada Ilah (sesembahan, tuhan) yang haq selain Allah.” (QS. Muhammad: 19)
إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) & mereka meyakini(nya).” (QS. Az-Zukhruf: 86)
Dari Utsman radhiyallahu ‘anhu, Dia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
من مات وهو يعلم أنه لا إله إلا الله دخل الجنة
“Barangsiapa yang meninggal dunia sedang dia mengetahui bahwasannya tak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, maka dia masuk surga.” (HR. Muslim)
Kedua, yakin, yaitu mengetahui secara sempurna kalimat tersebut. Lawan yakin adalah keragu-raguan (syak).
Yakin merupakan kekuatan & kesempurnaan ilmu. Seorang yang mengatakan kalimat haruslah benar-benar meyakini pengertian & kandungan kalimat tersebut tanpa adanya keraguan & kebimbangan sedikitpun. Karena iman itu butuh keyakinan, tak cukup dgn prasangka.
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (15)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah & Rasul-Nya kemudian mereka tak ragu-ragu dan mereka berjihad dgn harta & jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)
Dalam hadis, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله ، لا يلقى الله بهما عبد غير شاك فيهما إلا دخل الجنة
“Aku bersaksi bahwa tak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah & aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba yang berjumpa dgn Allah (meninggal dunia) dgn (meyakini) kedua kalimat tersebut tanpa ada keraguan, melainkan dia akan masuk surga.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan:
لا يلقى الله بهما عبد غير شاك فيحجب عن الجنة
“Tidak ada seorang hamba yang berjumpa dgn Allah (meninggal dunia) dgn meyakini kedua kalimat tersebut tanpa ada keraguan, lantas dia terhalang utk masuk surga.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dlm hadits yang cukup panjang, dia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من لقيت من وراء هذا الحائط يشهد أن لا إله إلا الله مستيقناً بها من قلبه فبشره بالجنة
“Siapapun yang engkau temui di balik tembok ini bersaksi bahwa tak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah & hatinya yakin dgn kalimat tersebut, maka sampaikanlah kabar gembira kepadanya (bahwa dia akan memperoleh) surga.”
Penulis: Ummu Aufa Nunung Wulandari
Murajaah: Ust Ammi Nur Baits
Maraji’:

Al-Wajibat, Syaikh Abdullah bin Ibrahim Al-Qar’awi, Media Hidayah.
Jami’ Ahkamis Shalat, Maktabah Syamilah.
Mulakhos Syarah Kitabut Tauhid, Syaikh Sholeh bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan, Darul ‘Ashimah.
Penjelasan Hal-Hal yang Wajib Diketahui oleh Setiap Muslim & Muslimah, Ibrahim bin As-Syaikh Shalih bin Ahmad al-Khuraishi, Pustaka Imam Syafi’i.
Tanbihat Mukhtashoroh, Syaikh Ibrahim bin Syaikh Sholih bin Ahmad Al-Khuraisyi, Darus Shomi’i.
sumber: www.muslimah.or.id