Yang Boleh Diusap Ketika Wudhu Bagian 1 (Khuf) Alaihi Wa Sallam

Sesungguhnya agama kita adalah agama yang mudah. Islam tidaklah membebankan kepada ummatnya kesulitan & kesempitan. Hukum-hukum islam adalah hukum-hukum yang memberikan maslahat (kebaikan) & menghilangkan kesulitan.
Di antara kemudahan dlm syariat islam ini adalah kemudahan dlm perkara berwudhu. Ketika ada salah satu dari anggota wudhu yang mengenakan sesuatu yang sulit utk dilepaskan, seperti khuf (sepatu), ‘imamah (sorban), & perban yang berfungsi utk melindungi luka.
Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikan keringanan bagi orang yang hendak berwudhu dgn diperbolehkannya mengusap anggota wudhu jika berada pada keadaan seperti yang telah disebutkan, cukup dgn mengusap tanpa harus melepaskannya. Ini adalah keringanan yang telah Allah ta’ala berikan kepada hamba-hambaNya.
Khuf
Yang dimaksud khuf adalah alas kaki yang terbuat dari kulit. Adapun jika terbuat dari kain maka disebut dgn jaurab (kaos kaki). [1]
Adapun mengusap khuf ataupun yang sejenis dengannya seperti jaurab, hal ini banyak dijelaskan di dlm hadits-hadits shahih & mutawatir, yang mengaskan bahwa hal itu diperbolehkan, baik dlm ketika mukim maupun musafir (bepergian).
Al-Hasan berkata: “Telah bercerita kepadaku 70 orang shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengusap khuf.” [2]
Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Tidak ada di dlm hatiku (keraguan) sedikitpun dlm mengusap khuf. Di sana ada 40 hadits yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam & para shahabat beliau.” [3]
Ibnul Mundzir & yang lainnya menukil adanya ijma’ para ulama mengenai bolehnya mengusap khuf. [4] Dan ulama Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah telah bersepakat mengenai bolehnya hal ini, berbeda dgn ahlul-bid’ah, seperti syi’ah, mereka tak mengakui bolehnya melakukan hal ini.
Hukum mengusap khuf & jaurab adalah boleh & hal ini merupakan sunnah yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, mengusapnya lebih utama dari pada melepaskannya kemudian membasuh kaki. [5] Mengusap khuf lebih utamakarena hal ini merupakan bentuk menyelisihi ahlul-bid’ah & dlm rangka mencontoh perbuatan Nabi shallallallahu ‘alihi wa sallam & mengambil rukhsoh (keringanan)yang telah Allah berikan. [6]
Jangka Waktu Mengusap Khuf
Jangka waktu mengusap khuf adalah sehari semalam utk orang yang mukim & tiga hari tiga malam bagi musafir. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan dari shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata
جعل النبي صلى الله عليه وسلم للمقيم يوماً وليلة ، وللمسافر ثلاثة أيام ولياليهن،يعني في المسح على الخفين
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan sehari semalam bagi orang yang mukim & tiga hari tiga malam bagi orang yang musafir.“(penetapan ini) yaitu dlm perkara mengusap dua khuf.” [7]
Dari Shafwan bin ‘Assal radhiallahu ‘anhu beliau berkata,
أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كنا سفراً ألا ننزع خفافنا ثلاثة أيام ولياليهن إلا من جنابة ولكن من غائط وبول ونوم
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami jika kami safar agar kami tak melepas khuf kami selama tiga hari tiga malam kecuali bagi siapa saja yang junub, akan tetapi ( tak perlu dilepas) jika karena buang air besar, kencing & tidur.” [8]
Perhitungan masa mengusap khuf dimulai dari pertama kali seseorang mengusap khuf setelah ia berhadats, menurut pendapat yang rajih. [9] Para ahli fikih mengatakan seandainya ada seseorang yang memakai khuf & dia dlm keadaan mukim (tidak safar), kemudian dia berhadats lalu orang tersebut melakukan safar & dia mengusap khuf pertama kali di dlm safarnya maka masa bolehnya mengusap khuf bagi orang tersebut adalah sebagaimana masa yang berlaku utk musafir. Dan ini menunjukkan bahwa perhitungan awal masa mengusap khuf adalah kapan pertama kali seseorang mengusap khuf tersebut. Dan inilah pendapat yang lebih rajih. [10]
Contoh lainnya adalah jika ada seorang yang sedang mukim berwudhu utk melakukan sholat subuh, stelah wudhu kemudian dia memakai kaos kaki. Ketika jam 9.00, orang tersebut berhadats & tak langsung berwudhu. Kemudian, dia berwudhu pada pukul 12.00 utk shalat dzuhur. Berdasarkan pendapat yang lebih rajih, perhitungan masa mengusap kaos kaki utk orang tersebut dimulai sejak pertama kali orang tersebut berwudhu yaitu pukul 12.00, sehingga masa dia boleh mengusap kaos kaki berlangsung sampai pukul 12.00 pada hari berikutnya. Karena yang menjadi tolak ukurnya adalah kapan pertama kali mengusap & bukan pertama kali orang tersebut terkena hadats.
Syarat-syarat mengusap khuf
Syarat yang harus dipenuhi agar diperbolehkan mengusap khuf adalah,

Ketika memakainya dlm kondisi suci dari hadats besar maupun kecil
Dalilnya suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, namun sepatunya belum dilepas. Kemudian Al-Mughirah bin Syu’bah hendak melepasnya, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:
“دعهما فإني أدخلتهما طاهرتين”.
“Biarkanlah keduanya, sesungguhnya aku memakainya dlm keadaan suci.” [11]
Mengusap khuf dilakukan hanya utk hadats kecil. Sedangkan jika mengalami junub atau adanya hal-hal yang mewajibkan utk mandi besar maka harus dilepas.
Dalil hal ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari Shofwan bin ‘Assal radhiallahu ‘anhu beliau berkata:
أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كنا سفراً ألا ننزع خفافنا ثلاثة أيام ولياليهن إلا من جنابة ولكن من غائط وبول ونوم
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami jika kami safar agar kami tak melepas khuf kami selama tiga hari tiga malam kecuali bagi siapa saja yang junub, akan tetapi( tak perlu dilepas) jika karena buang air besar, kencing & tidur.” [12]
Masih berada dlm batasan waktu yang telah ditetapkan oleh syariat
Batasan yang telah ditetapkan oleh syariat adalah sehari semalam bagi orang yang mukim (tidak safar) & tiga hari tiga malam bagi orang yang bepergian (safar). Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,
جعل النبي صلى الله عليه وسلم للمقيم يوماً وليلة،وللمسافر ثلاثة أيام ولياليهن،يعني في المسح على الخفين
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan sehari semalam bagi orang yang mukim & tiga hari tiga malam bagi orang yang musafir.” (penetapan ini) yaitu dlm perkara mengusap dua khuf.[13]
Adapun hukum mengusap kaos kaki (jaurab), hukumnya boleh, sebagaimana bolehnya mengusap khuf. Karena illah (dasar pengambilan hukum) sama, sehingga hukum mengusap jaurab (kaos kaki) bisa dianalogikan dgn hukum mengusap sepatu. Disampinng itu, juga disebutkan dlm hadits,
أن يمسحوا على العصائب والتَّساخين
“Hendaklah mereka mengusap sorban-sorban (mereka) & penghangat (kaki).” (HR. Ahmad (5/277), Abu Daud dlm kitaabuth-thaharah: bab al-mashu ‘alal-’imaamah No. 146, & Al-Hakim (1/169) dari Rasyid bin Sa’ad dari Tsauban)
Lafadz التَّساخينُ (penghangat) pada hadits di atas mempunyai makna umum utk sesuatu yang dipakai di kaki & berfungsi utk menghangatkan kaki. [14]
Bersambung insyaallah
***
Artikel muslimah.or.id
Penulis: Ummu Zaid Wakhidatul Latifah
Murajaah: Ust Ammi Nur Baits
Foot Note:
[1] Fathu dzil-jalaali wal-ikraam bi syarhi buluughil-maram,1/360
[2] Al-Ausath Ibnul-Mundzir 1/430, 433; nashabur-rayah Az-zila’iy 1/162; Al-I’lam bi fawaaidi ‘umdatul-ahkam Ibnul-Mulaqqin 1/ 615-616
[3] Fathu dzil-jalaali wal-ikraam bi syarhi bulughil-maram, 1/360
[4] Al-Ausath 1/ 434
[5] Buhuuts wa Fatawa fii Mashi ‘alal-Khuffain, hal 23-24
[6] Mulakhos Fiqhiyyah
[7] HR. Muslim, kitaabuth-thoharoh no. 276
[8] Hadits shohih riwayat Ahmad, Nasai, & Tirmidzi , irwaul gholil no 104
[9] al-Inshaaf (1/400)
[10] Syarhul-mumti’ ‘ala zaadil-mustaqni’, 1/227
[11] Muttafaqun ‘alaihi
[12] Hadits shohih riwayat Ahmad, Nasai, & Tirmidzi , irwaul gholil no 104
[13] HR. Muslim, kitaabuth-thoharoh 276
[14] syarhul-mumti’ ‘ala zaadil-mustaqni’, 1/235
Referensi:
Buhuuts wa Fatawa fii Mashi ‘alal-Khuffain, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Darul-Wathan lin-Nasyr, Riyadh
Fathu Dzil-Jalaali wal-Ikraam bi syarhi Buluughil-Maram, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Darul-Wathan lin-Nasyr, Riyadh.
Asy-Syarhul-Mumti’ ‘ala Zaadil-Mustaqni’, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Daar Ibnul-Jauzi
Mulakhos Fiqhiyyah, Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Alu Fauzan, Mauqi’ Ruhul-Islam (islamspirit.com)
sumber: www.muslimah.or.id