Yang Boleh Diusap Ketika Wudhu Bagian 2 (‘Imamah) Alaihi Wa Sallam

‘Imamah
‘Imamah adalah sesuatu yang menutupi kepala & dililitkan di kepala. [1] Dalil yang menunjukkan bolehnya mengusap ‘imamah (sorban) adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu,
أن النبيَّ صلّى الله عليه وسلّم: مسح بناصيته، وعلى العِمامة، وعلى خُفّيه
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap jambul rambutnya, ‘imamah & kedua khuf-nya.” [2]
Hadits di atas menunjukkan bolehnya mengusap ‘imamah berdasarkan perkataan beliau (al-Mughirah bin Syu’bah).
Terkait hal ini, ada beberapa pembahasan,
1Apakah disyaratkan ‘imamah yang boleh diusap mempunyai ciri tertentu, atau semua yang disebut dgn ‘imamah apapun bentuknya boleh utk diusap?
Dalam perkara ini terdapat dua pendapat ulama. Dan pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah tak ada ciri khusus utk ‘imamah yang boleh utk diusap. Dan inilah pendapat yang dipilih oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Jadi, apa saja yang secara mutlaq disebut sebagai ‘imamah maka termasuk yang boleh diusap. [3]
2Apakah ‘imamah yang dipakai harus suci?
Jawabannya adalah tentu saja ‘imamah yang dipakai haruslah suci. Karena imamah yang diusap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan digunakan utk shalat. Dalilnya, suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dgn memakai sandal yang terkena najis, kemudian malaikat Jibril mendatangi beliau & memberitahukan bahwa di sandal beliau terdapat kotoran, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melepaskan kedua sandalnya. Ini menunjukkan bahwa diantara syarat shalat adalah pakaiannya harus suci, termasuk imamah. [4]
3Apakah ‘imamah yang dikenakan disyaratkan ‘imamah yang mubah, di mana menjadi tak sah jika ‘imamah tersebut adalah ‘imamah hasil curian atau dimiliki dgn kepemilikan yang tak sah?
Dalam hal ini terdapat dua pendapat ulama, pendapat pertama menyebutkan bahwa ‘imamah tersebut haruslah sesuatu yang mubah. Alasannya, karena bolehnya mengusap ‘imamah adalah rukhsah (keringanan dlm syariat) & tak sepantasnya rukhsah ditujukan utk perbuatan maksiat. Sementara pendapat kedua menyebutkan bahwa tak disyaratkan ‘imamah yang dikenakan adalah sesuatu yang mubah, sehingga seseorang tetap diperbolehkan mengusap ‘imamah sekalipun ‘imamah tersebut hasil curian, atau dgn cara kepemilikan yang tak sah, ataupun karena terbuat dari sutra bagi laki-laki. [5]
Dalam Syarhul Mumti’ syaikh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Yang lebih tepat adalah disyaratkan ‘imamah tersebut adalah sesuatu yang mubah, jadi tak boleh mengusap ‘imamah yang haram karena ‘imamah trersebut terdapat gambar (makhluk hidup) ataupun karena terbuat dari sutra.” [6]
4Apakah disyaratkan ketika memakai ‘imamah dlm keadaan suci dari hadats?
Dalam hal ini terdapat dua pendapat ulama, pendapat pertama adalah disyaratkan mengenakan ‘imamah dlm keadaan suci, sebagaimana syarat dibolehkannya mengusap khuf. Pendapat kedua menyebutkan tak disyaratkannya. Karena mengatakan adanya syarat membutuhkan dalil, & tak ada dalil dlm masalah ini, & menganalogikan hukum ini dgn mengusap khuf dlm masalah ini adalah qiyas (analogi) yang tak benar. Hal ini karena bersuci utk anggota badan tempat ‘imamah yaitu kepala lebih ringan dari pada bersuci utk anggota badan tempat khuf, yaitu kaki. Bersuci utk kepala dilakukan dgn cara mengusap, & mengusap ‘imamah sama halnya dgn mengusap kepala, karena keduanya sama-sama diusap, sehingga tak disyaratkan utk ‘imamah dipakai dlm keadaan telah suci dari hadats. Lain halnya dgn khuf (sepatu), anggota badan tempat khuf (yaitu kaki), bersucinya dilakukan dgn cara membasuh. Sementara khuf, caranya dgn diusap, keduanya merupakan cara bersuci yang berbeda. Dan inilah pendapat yang lebih shahih, yaitu tak adanya syarat bahwa ketika menggunakan ‘imamah oranghya harus dlm keadaan suci dari hadats. [7]
5Apakah ada batasan waktu (‘imamah boleh diusap) ataukah cukup kita katakan selagi seseorang memakai ‘imamah maka dia boleh mengusap ‘imamah & jika dia tak memakainya maka dia mengusap kepala?
Dalam perkara ini juga terdapat dua pendapat ulama. Pendapat pertama mengatakan adanya batasan waktu sebagaimana syari’ah mengusap khuf. Sedangkan pendapat kedua menyebutkan tak adanya batasan waktu utk mengusap ‘imamah karena tak adanya dalil mengenai hal ini. Seandainya batasan waktu ini ada dlm syariat, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya. Sementara mengqiyaskan ‘imamah dgn khuf adalah qiyas yang tak benar, karena dlm qiyas disyaratkan adanya kesusaian antara perkara asal (pokok) dgn perkara cabang (yang diqiyaskan). Adapun dlm kasus ini syarat tersebut tak terpenuhi. Oleh karena itu, selagi seseorang memakai ‘imamah maka ia boleh mengusapnya, & jika dia telah melepaskan ‘imamah-nya maka hendaknya dia mengusap kepalanya & dlm hal ini tak ada batasan waktu. [8]
6Apakah boleh seseorang cukup mengusap ‘imamah ketika mandi junub?
Jawabannya adalah tak boleh mengusapnya ketika mandi junub. Karena Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْا
“Jika kamu junub maka mandilah.” (QS. Al-Maidah: 6)
Dan tak ada sesuatu yang cukup hanya dgn diusap dlm perkara mandi besar kecuali dlm kondisi darurat seperti perban luka. ‘Imamah tak boleh diusap dlm kondisi terkena hadats besar, karena hadats besar mengharuskan utk mensucikan seluruh anggota badan, hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala dlm surat Al-Maidah ayat 6 di atas. [9]
Bersambung insyaallah
***
Artikel muslimah.or.id
Penulis: Ummu Zaid Wakhidatul Latifah
Murajaah: Ust Ammi Nur Baits
Foot Note:
[1] Syarhul mumti’ ‘ala zaadil-mustaqni’, 1/236
[2] HR. Muslim dlm kitaabuth-thahaarah: bab mengusap ujung rambut & ‘imamah No. 274
[3] Fathu dzil-jalaali wal-ikram bi syarhi buluughil-maram, 1/318
[4] Fathu dzil-jalaali wal-ikram bi syarhi buluughil-maram 1/318
[5] Fathu dzil-jalaali wal-ikram 1/319
[6] Syarhul- mumti’ 1/ 237
[7] Fathu dzil-jalaali wal-ikram 1/319
[8] fathu dzil-jalaali wal-ikram 1/320
[9] Fathu dzil-jalaali wal-ikram 1/320
Referensi:
Buhuuts wa Fatawa fii Mashi ‘alal-Khuffain, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Darul-Wathan lin-Nasyr, Riyadh
Fathu Dzil-Jalaali wal-Ikraam bi syarhi Buluughil-Maram, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Darul-Wathan lin-Nasyr, Riyadh.
Asy-Syarhul-Mumti’ ‘ala Zaadil-Mustaqni’, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Daar Ibnul-Jauzi
Mulakhos Fiqhiyyah, Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Alu Fauzan, Mauqi’ Ruhul-Islam (islamspirit.com)
sumber: www.muslimah.or.id