Yang Boleh Diusap Ketika Wudhu Bagian 3 (Perban)

Perban (jabiirah)
Sebelum membahas mengenai boleh atau tidaknya mengusap perban, alangkah baiknya jika kita mengatahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dgn perban di sini. Pada asalnya yang disebut sebagai jabiirah adalah sesuaatu yang digunakan utk membalut tulang yang patah. Adapun menurut ‘urf (umumnya anggapan) ulama ahli fiqh adalah sesuatu yang diletakan pada anggota ibadah bersuci (seperti wudhu), karena adanya suatu kebutuhan tertentu. Misalnya gips yang digunakan utk menambal tulang yang patah atau dapat pula berupa perban yang digunakan pada anggota badan yang terluka. Maka mengusap yang semacam ini dapat menggantikan kewajiban membasuh. Sebagai contoh seandainya ada seseorang yang akan berwudhu, sedang ditangannya ada perban yang digunakan utk menutupi luka di tangannya maka mengusap perban dapat menggantikan membasuh tangan bagi orang tersebut. [1]
Adapun dalil yang menyebutkan bolehnya mengusap jabiirah (perban) adalah hadits yang diriwayatkan dari shahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu,
خرجنا في سَفَرٍ , فَأصَابَ رَجُلًا مِنَّا حجر , فشجه في رأْسهِ , ثمِّ احتلم , فسأل أصحابه : هل تجدون لي رخصةً في التيمم ؟ قالوا : ما نجد لك رخصة و أنت تقدر على الماء , فاغتسل , فمات , فلمّا قدمنا على رسول الله صلى الله عليه و سلم أخبر بذلك , فقال : قتلوه قتلهم الله , ألا سألوا إذا لم يعلموا , فإنّما شفاء العي السؤال , إنما كان يكفيه أن يتيمم , و يعصب على جرحه خرقة , ثم يمسح عليها
“Kami keluar utk bersafar, kemudian salah seorang di antara kami ada yang terkena batu maka terlukalah kepalanya. Kemudian orang tersebut mimpi basah, lalu orang tersebut bertanya kepada sahabat-sahabatnya : “Apakah kalian mendapati untukku keringanan utk bertayamum?” mereka menjawab: “Kami tak mendapatkan adanya keringanan bagimu sedang kamu mampu utk menggunakan air.” Kemudian orang tersebut mandi lalu meninggal. Kemudian setelah kami sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam aku memberitahukan kepada beliau tentang hal ini, kemudian beliau bersabda: “Mereka telah membunuhnya semoga Allah membunuh mereka, mengapa mereka tak mau bertanya jika mereka tak tahu, sesungguhnya obat dari tak tahu adalah bertanya. Sesungguhnya cukup baginya utk bertayamum & menutup lukanya tersebut dgn potongan kain, kemudian dia cukup utk mengusapnya.” (HR. Abu Daud)
Terdapatnya luka pada anggota wudhu terbagi menjadi beberapa tingkatan,
1Luka tersebut dlm keadaan terbuka & tak membahayakan baginya jika terkena air. Dalam keadaan ini tetap wajib utk membasuh anggota badan yang luka tersebut.
2Luka tersebut terbuka akan tetapi dapat membahayakan jika terkena air. Dalam keadaan ini wajib utk mengusap anggota badan tersebut tanpa harus membasuhnya.
3Luka tersebut terbuka & dapat membahayakan jika dibasuh maupun diusap, dlm keadaan ini maka cukup dgn diberi tayamum.
4Luka tersebut tertutup oleh perban atau yang semacamnya, dlm keadaan ini maka yang diusap adalah penutup luka, sebagai ganti membasuh anggota badan yang di bawahnya. [2]
Tata cara mengusap perban
Tata cara mengusap perban atau semisalnya adalah dgn mengusap seluruh bagian perban, karena pada asalnya mengusap perban adalah sebagai pengganti dari anggota badan yang diperban. Sementara disebutkan dlm sebuah kaidah: “Hukum pengganti adalah sama dgn yang digantikan”. Mengusap perban adalah ganti dari membasuh. Sebagaimana ketika membasuh kita wajib menyiramkan air ke seluruh bagian anggota wudhu, demikian juga mengusap perban maka wajib utk mengusap seluruh bagian perban. Adapun mengusap khuf keadaannya berbeda, karena mengusap khuf merupakan keringanan syariat, & terdapat tata cara khusus yang dijelaskan dlm sunnah tentang dibolehkannya mengusap sebagiannya saja. [3]
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush-shaalihaat
***
Artikel muslimah.or.id
Penulis: Ummu Zaid Wakhidatul Latifah
Murajaah: Ust Ammi Nur Baits
Foot Note:
[1] Buhuuts wa Fatawa fii Mashi ‘alal-Khuffain , hal 49
[2] Buhuuts wa Fatawa fii Mashi ‘alal-Khuffain, hal 50-51
[3] Buhuuts wa Fatawa fii Mashi ‘alal-Khuffain, hal 52-53
Referensi:
Buhuuts wa Fatawa fii Mashi ‘alal-Khuffain, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Darul-Wathan lin-Nasyr, Riyadh
Fathu Dzil-Jalaali wal-Ikraam bi syarhi Buluughil-Maram, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Darul-Wathan lin-Nasyr, Riyadh.
Asy-Syarhul-Mumti’ ‘ala Zaadil-Mustaqni’, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Daar Ibnul-Jauzi
Mulakhos Fiqhiyyah, Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Alu Fauzan, Mauqi’ Ruhul-Islam (islamspirit.com)
sumber: www.muslimah.or.id